Masa Depan Kebun Binatang Bandung di Masa Pandemi

Pandemi dan Kehidupan Satwa

Tidak hanya berpengaruh pada sosial dan perekonomian masyarakat, pandemi Covid-19 juga berdampak pada lingkungan hidup. Bukan saja manusia yang harus beradaptasi dengan kondisi yang ada, perubahan yang terjadi akibat pandemi ini berimbas pula pada kesejahteraan hewan (animal welfare). Ini lah yang dialami salah satunya oleh Kebun Binatang Bandung. Sejak 23 Maret 2020, Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoological Garden/Bazoga) resmi ditutup sementara untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

Karena melaksanakan SOP dari protokol kesehatan yang ditetapkan, memang tidak terdapat satwa Kebun Binatang Bandung yang tertular Covid-19. Namun, penutupan selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan berkurangnya sekitar 90% pendapatan utama kebun binatang, yaitu yang berasal dari tiket masuk. Padahal, pendapatan utama inilah yang menjadi modal untuk operasional kebun binatang, termasuk pemeliharaan dan perawatan binatang. “Pemasukan utama kebun binatang berasal dari tiket pengunjung. Tiket inilah yang mendukung keberlangsungan hidup kebun binatang. “Saat sepuluh hari libur lebaran, jumlah tiket yang terjual bisa mencapai 120.000 buah. Hasil penjualan tiket ini dapat digunakan untuk membangun dan bertahan hidup selama satu tahun,” papar Suhan Syafii, bagian komunikasi pemasaran Kebun Binatang Bandung.

Sebelum diberlakukannya PSBB maupun keputusan penutupan kebun binatang sementara. Kebun Binatang Bandung sudah melakukan evaluasi terhadap jumlah pengunjung. Pada kondisi normal, jumlah pengunjung biasanya 300-700 orang di hari kerja; 1.000-1.500 orang di hari Sabtu; dan bisa mencapai 3.000 – 5.000 orang di hari Minggu dan libur nasional. Sejak masa pandemi, jumlah pengunjung harian terus mengalami penurunan. Hingga seminggu sebelum penutupan, jumlah pengunjung terjun bebas menjadi <1.000 orang pada hari Minggu, +/- 75 orang pada hari Seninnya, hingga hanya 2 orang pada hari Jumat berikutnya. Pihak kebun binatang menyadari bahwa minat pengunjung pun sudah berkurang akibat kekhawatiran terhadap Covid-19. Sejak hari itu pula, Kebun Binatang Bandung merumahkan sekitar 40 karyawan hariannya dengan hanya beberapa kali diberikan sembako untuk mendukung kehidupan. Sementara itu, 64 orang karyawan tetap kebun binatang dibagi menjadi dua shift/giliran dengan sistem dua hari kerja – dua hari libur.

Berdasarkan analisis yang dilakukan pihak kebun binatang pada bulan April 2020, Kebun Binatang Bandung hanya mampu bertahan hingga akhir Juli 2020 dengan persediaan yang ada. Setelah itu, Kebun Binatang Bandung harus siap menjalankan skenario untuk kondisi terburuk yang harus dijalani. Konsekuensi dari penutupan ini, Kebun Binatang Bandung harus menerapkan pola efisiensi salah satunya terhadap pakan satwa. Saat ini, terdapat beberapa pengurangan makanan terutama untuk jenis hewan kucing besar dan gajah yang menghabiskan biaya besar. Apabila tidak tersedia bantuan hingga akhir Juli, kebun binatang berencana untuk mengeksekusi satwa-satwa yang kurang produktif (seperti rusa) untuk diberikan sebagai pakan bagi satwa endemik yang harus diperjuangkan (seperti macan tutul Jawa, harimau Sumatera, dsb). Sulhan Syafii menyampaikan skenario ini disusun karena adanya skala prioritas jenis hewan yang harus diselamatkan. Kebun binatang harus tetap memastikan terpenuhinya animal welfare, yaitu bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari rasa sakit, bebas untuk berperilaku alamiah, dan bebas dari rasa takut dan tertekan.

Secara tidak langsung, ini berarti, sekitar 850 ekor satwa di kebun binatang terancam kesejahteraannya akibat pandemi Covid-19. Atas dasar ini, berbagai lembaga, organisasi, maupun individu melakukan pemberian donasi untuk memperjuangkan kehidupan satwa di Kebun Binatang Bandung. Yayasan Lokus Bijak Hijau Lestari (LOKAHITA) merupakan salah satu yayasan yang melakukan penggalangan bantuan untuk penyediaan pakan satwa di Kebun Binatang Bandung.

Penggalangan bantuan ini dilaksanakan pada 15 – 19 Mei 2020, melalui media sosial resmi yayasan (Instagram, Twitter, dan LinkedIn) dan broadcast pada layanan pesan instan (Whatsapp). Donasi yang terkumpul sebesar Rp4.050.000 disalurkan dalam bentuk pakan satwa, melalui dua tahapan, yaitu Tahap I pada Hari Keanekaragaman Hayati (22 Mei 2020) dan Tahap II pada Hari Lingkungan Hidup (5 Juni 2020).

Tidak hanya melalui pemberian sumbangan/donasi, publik juga dapat berkontribusi dengan memberikan ide dan masukan dalam hal inovasi dan pengembangan. Pada akhirnya, kebun binatang diharapkan mampu dimanfaatkan demi kepentingan Bersama. Kebun Binatang tidak hanya dapat dijadikan sebagai tempat rekreasi, melainkan pendidikan dan penelitian bagi semua pihak yang membutuhkan, individu maupun institusi.

Penerapan New Normal versi Kebun Binatang Bandung

Mengingat penerapan PSBB yang akan segera berakhir, Kebun Binatang Bandung juga bersiap untuk kembali beroperasi secara terbatas. Terlepas dari tanggal pasti yang belum diumumkan, Kebun Binatang Bandung telah menyusun prosedur baru untuk memastikan terlaksanya protokol kesehatan. Jumlah pengunjung akan dibatasi hingga hanya 50% dari kapasitas biasanya, serta akan diterapkan sistem buka tutup untuk memastikan tidak adanya kerumunan. Pengunjung hanya diperbolehkan masuk jika suhu tubuhnya <37,5°C. Pada pintu masuk, akan diletakkan tanda pembatas jarak agar tidak berdempetan saat mengantri. Susuran tangan (railing) akan dibersihkan minimal 2 kali dalam sehari. Kemudian, akan disediakan banyak persanitasi tangan (hand sanitizer) untuk pengunjung, terutama di toilet. Beberapa atraksi, seperti keeper talks dan animal feeding akan ditiadakan sementara. Pertunjukan edukasi akan tetap hadir namun dengan pengurangan kapasitas untuk menjaga jarak fisik sejauh 1,5meter. Staf dan karyawan diwajibkan menggunakan masker dan sarung tangan, melakukan pengukuran suhu tubuh, hingga penyemprotan disinfektan.

Penerapan berbagai prosedur ini tidak dipandang sebagai sesuatu yang menghambat, melainkan diharapkan dapat menjadi standar baru yang justru memberi kenyamanan bagi pengunjung maupun satwa dan lingkungan. Hal ini tentunya juga membuka peluang untuk terciptanya berbagai inovasi baru untuk mewujudkan kehidupan yang lebih harmonis antara manusia dan lingkungan.