Monas! Ini Santapanmu...

Bandung - "Kalau saya kurangi atau korupsi jatah makanan, gajahnya berisiko sakit," ucap Jeje (47).

Jeje kelar mengguyur dua gajah jumbo. Usai 'ritual' harian pagi tersebut, ia reda sejenak sembari duduk di kursi kayu ditemani sejumlah rekan sejawat. Sang pawang gajah ini meneguk segelas air mineral.

Di sudut ruangan tempat Jeje rehat, setumpuk rumput disandarkan ke dinding. Sisi tembok lainnya, barisan batang tebu direbahkan di lantai. Pakan khusus gajah ini sedari pagi Jeje pilah.

"Ada dua gajah di sini," ujar Jeje kepada detikcom di Kebun Binatang (Bunbin) Bandung atau Bandung Zoological Garden (Bazoga), Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat 20 September 2019.

"Satu gajah, seharinya disiapkan 300 kilogram rumput," ia melanjutkan.

Agar rumput tak terbuang sia-sia, Jeje selalu menyelaraskan porsi. Apa alasannya?

"Dihemat, biar nggak terbuang rumputnya. Kalau diberikan sekaligus, terus rumput itu kena kotoran dan kencing gajah, ya nggak akan dimakan. Jadi, porsinya disesuaikan," ucap Jeje.

Bunbin Bandung memiliki koleksi dua gajah dewasa bernama Ira (45 tahun) dan Salma (50 tahun). Saban hari, Jeje dan seorang rekannya, mengurusi binatang berbelalai ini. Bukan cuma rumput, dua gajah betina berbobot empat ton tersebut disuguhi menu plus berupa batang tebu, wortel dan makanan sehat lainnya.

Kisah merawat satwa penghuni Bunbin Bandung diungkapkan juga oleh Abdul Rojak (49). Bapak dua anak ini mengawal hewan berciri khas memiliki punuk di punggung. Punuk berfungsi menyimpan cadangan makanan dalam bentuk lemak.

"Monas! Ini santapanmu,"ucap Abdul menyodorkan wadah berisi pisang dan wortel.

Monas bereaksi sambil melangkah menghampiri sumber suara yang memanggil namanya. Kepala unta jantan berusia 18 tahun itu turun ke celah tiang besi kandang, lalu lidahnya menjulur melahap hidangan tambahan dalam kotak plastik.

Selain Monas, Abdul mengontrol empat unta lainnya. Satu jantan bernama Ramadan (6 tahun), serta tiga betina yakni Anis (27 tahun), Anya (11 tahun) dan Fira (11 tahun).

"Jumlah jatah makanannya harus disesuaikan dan teratur. Tiga kali sehari, jadwalnya pagi, siang dan sore. Pokoknya jangan kelaparan," kata Abdul yang terjun menjadi pawang unta di Bunbin Bandung sejak 1996.

Tempat rekreasi keluarga di tengah Kota Bandung ini berdekatan dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Bunbin Bandung dikelola Yayasan Marga Satwa Tamansari. Objek wisata legendaris tersebut memiliki lahan seluas 13,5 hektare. Data disampaikan pengelola, pada September 2019, koleksinya berjumlah 850 satwa yang terdiri 130 spesies.

Tiap akhir pekan atau Sabtu rata-rata pengunjungnya 1.500 orang, sedangkan Minggu meningkat mencapai 5.000 orang. Pada Senin hingga Jumat jumlah pengunjung antara 350-750 orang. Harga tiket Rp 40 ribu per orang.

Cegah Korupsi

Kasus korupsi jatah makanan satwa mencoreng wajah pengelola Bunbin Gembira Loka Yogyakarta karena ulah pegawai bagian nutrisi, inisial SG (40). Ia menyunat jatah daging kambing, jadwal makan tiap Rabu dan Jumat, untuk lima ekor harimau. Imbasnya, karnivor tersebut tampil ceking akibat jumlah porsi daging menyusut atau semula 17 kilogram menjadi 5 kilogram.

Muslihat culas SG terbongkar oleh pawang harimau yang kaget lantaran berkurangnya kuantitas pasokan makan. Sang pawang bergegas melaporkan kepada atasannya di bagian pengadaan. Personel Unit Reskrim Polsek Kotagede turun tangan mengusut dan menangkap aksi durjana pria tersebut.

Praktik korupsi yang dilakoni SG berlangsung sejak Juni 2015 hingga Februari 2016. Total duit haram dikantongi SG mencapai Rp 90 juta atau setiap minggunya menilap Rp 3 juta. Ia pakai uang hasil kejahatan itu untuk kredit mobil dan dua unit sepeda motor. SG dijerat Pasal 372 KUHPidana tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHPidana perihal Penipuan yang hukumannya empat tahun bui.

Pengelola Bunbin Bandung atau Bandung Zoological Garden (Bazoga) enggan kecolongan modus serupa. Pihaknya menggelorakan pencegahan praktik korupsi. Salah satu caranya yaitu meningkatkan kualitas manajemen sumber daya manusia (SDM) dengan memperbaiki sistem serta membangun perilaku dan budaya antikorupsi.

Juru Bicara Bazoga Sulhan Syafii tak menutup mata bahwa kelakuan curang rentan terjadi. "Potensi praktik korupsi di lingkungan bunbin itu besar sekali. Tapi tentu kami punya semangat untuk bersama-sama mencegah korupsi," ujar Aan, sapaannya.

Menurut Aan, membentuk watak SDM berintegritas di lingkungan Bunbin Bandung ini selaras dengan arahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mengusung sembilan nilai antikorupsi, yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil.

"Bagi kami, kejujuran nomor satu. Prinsip tersebut sebenarnya sudah dilakukan oleh Ema Bratakusumah, pendiri Bunbin Bandung. Jujur itu berkah di dunia dan selamat di akhirat," kata Aan menjelaskan.

Bunbin Bandung memiliki 100 pegawai yang di antaranya penjaga satwa, tenaga paramedis, admin, dan dokter hewan. Mereka mengantongi gaji per bulannya sesuai UMK.

Aan kerap mewanti-wanti para pegawai tidak terjerumus polah tingkah ilegal berujung pelanggaran hukum. Selain memperketat perawatan satwa, pengelola menerapkan sistem komputerisasi tiket pengunjung.

"Untuk mencegah kecurangan, kami menerapkan tiket barcode. Sistem tersebut mulai diterapkan sejak 2017. Misalnya, hari ini penjaga loket memegang 1.000 lembar tiket, jumlah yang terjual pasti terdata. Nah, sisa yang tidak terjual, juga ada datanya," tutur Aan.

Berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 479/Kpts-II/1998 serta Instruksi Menteri Dalam Negeri, tujuan utama kebun binatang ialah tempat pemeliharaan dan pengembangbiakan satwa liar di luar habitatnya agar spesies tersebut tidak punah. Selain itu, fungsi utama kebun binatang untuk konservasi, pendidikan, penelitian dan sarana rekreasi.

Sejiwa dengan Satwa

Bunbin Bandung atau Bandung Zoological Garden (Bazoga) tak lepas dari catatan miring yang membetot perhatian publik. Pada libur Lebaran 2015, beredar foto kandang beruang madu dipenuhi botol plastik dan kulit kacang. Mirisnya, beruang itu dicolok kayu oleh pengunjung dari luar pagar pembatas.

Setahun kemudian atau Rabu 11 Mei 2016, Bunbin Bandung kembali mendapat sorotan tajam atas matinya gajah betina berusia 34 tahun bernama Yani. Hasil nekropsi hewan oleh tim dokter gabungan menyebutkan bahwa kematian Yani akibat sakit radang paru-paru dan bintil di hati. Sebelum kehilangan nyawa, gajah ikonik asal Sumetera itu selama sepekan tumbang tak berdaya. Kematian Yani juga mengungkap soal nihilnya dokter hewan dimiliki Bunbin Bandung.

Rentetan peristiwa tersebut menjadi momentum pengelolanya berbenah merombak internal manajemen. Tonggak 'penyegaran' tersebut berlangsung 2017. Prosesnya bertahap dengan menata area rekreasi, mempercantik kandang berserta prasarana pendukung dan fasilitas pelayanan pengunjung, menerapkan sistem tiket barcode, dan mempertebal integritas SDM.

Kuota pakan untuk satwa pun semakin diperhatikan. Bukan hanya berisiko sakit, binatang terancam mati andaikata pembagian penganan malah disalahgunakan.

Juru Bicara Bazoga Sulhan Syafii alias Aan menjelaskan alur pemberian makanan untuk hewan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivor) dan pemakan daging (karnivor). Sebelum dipasok ke satwa, Aan mengungkapkan, makanan dikumpulkan di dapur atau logistik. Petugas bidang nutrisi akan menakar porsi dan kandungan gizi menu, selanjutnya memerintahkan pawang untuk membagikan konsumsi satwa.

Rangkaian pemberian pakan, Aan mengklaim, melalui pengawasan ketat sejak berada di ruangan dapur. Tujuannya guna memutus dan menyetop ruang gerak tindak tanduk praktik korupsi.

"Enggak bisa korupsi para keeper di sini," kata pria berkacamata ini.

Bukan hanya itu, menurut Aan, pakan busuk dan kudapan yang tersisa pun wajib dilaporkan secara tertulis oleh para pawang. "Misalnya, animal keeper mencoba atau mengetes pisang itu busuk atau tidak, hal wajar. Tapi kalau ternyata pisang busuk itu dibawa pulang keeper, ya tidak boleh. Ada sanksinya," tuturnya.

Frekuensi pemberian makan ini ada yang tiap hari dan dua hari sekali. Aan berucap, "selain makanan pokok, ada juga makanan ekstra atau camilannya yang bikin satwa segar."

Ia menjelaskan bahwa pengelola mempunyai standar operasional prosedur (SOP) untuk pengawasan kesehatan hewan. Dokter terlibat langsung mendeteksi serangan penyakit serta perilaku agresif atau tidaknya satwa.

"Keeper tiap harinya melaporkan secara tertulis melalui kertas yang disiapkan. Nantinya didata soal makanan hingga tingkah laku satwa. Kalau ada janggal, misalnya porsi makanan 10 kilogram kenapa tersisa di kandang, keeper nanti menyampaikan kepada kurator atau dokter. Setelah itu, dokter hewan turun tangan," ucap Aan.

Hari Hak Asasi Hewan diperingati setiap 15 Oktober. Penghormatan tersebut muncul dari deklarasi universal kesejahteraan satwa yang didukung 46 negara. Ada lima butir menyangkut kebebasan hewan yaitu bebas lapar dan haus, bebas rasa tidak nyaman, bebas dari sakit dan luka, bebas berprilaku liar alami, serta bebas rasa takut dan stres. Pelanggar Hak Asasi Hewan di Indonesia dapat terancam hukuman pidana tiga bulan penjara, yang sesuai aturan Pasal 302 KUHP.

Abdul Rojak (49), pawang unta di Bandung Zoological Garden, merasakan keakraban bersama Monas, Ramadan, Anis, Anya, dan Fira. Saban hari ia bercengkerama dan berinteraksi langsung dengan lima unta dewasa tersebut. Selain memandikan di kandang dan melatih unta tunggang, Abdul bertanggung jawab terhadap urusan perut serta kesehatan 'sahabatnya'.

"Karakter saya sebagai pawang ini sudah bersatu dengan unta. Lima unta yang sekarang ada di sini sudah kenal saya. Ya saling kenal," kata Abdul tertawa.

Ia menjaga kualitas makanan dan minuman kepada lima unta ini. Abdul juga melototi bobot unta agar performa tetap terjaga.

"Kalau kegemukan, tentu harus diatur porsi makanannya. Nanti bagian petugas nutrisi yang sesuaikan komposisi. Kalau unta sakit, saya laporkan ke dokter hewan untuk memeriksa dan memberi obat. Paling repot itu kalau kena diare, kasihan untanya," tutur Abdul yang melakoni pawang unta sejak 1996,

Tanggung jawab besar kerap menyergap benak Abdul kala merawat lima ekor unta. Ia ogah lalai.

"Ya tentu saja saya akan merasa bersalah kalau unta kehausan dan kelaparan atau kekurangan makanan. Harus jujur dan adil soal jatah pakannya," ucap Abdul.

Senada diungkapkan Jeje. "Saya dan gajah di sini ibaratnya sudah sejiwa," kata Jeje yang 30 tahun berkecimpung sebagai pawang gajah.

"Merasa bersalah kalau makanan untuk gajah itu kurang. Justru saya tambahi makanannya. Untuk pasokan rumput, kita punya kebun di Jatinangor (Sumedang) dan Purwakarta," ujarnya menambahkan.

Pengelola Bunbin Bandung menyiapkan catatan khusus yang wajib diisi para pawang hewan. Kertas bertulis 'Laporan Harian Kondisi Satwa' ini tidak semata-mata menyangkut soal kepedulian terhadap hewan, tetapi membiasakan diri para penjaga satwa untuk disiplin dan jujur.

"Tiap hari ada catatannya. Kalau makanan kualitasnya kurang baik, kita catat. Kalau baik, ya baik. Buruk ya buruk. Begitu juga kuantitas jatah makanan, kalau hari ini misalnya kurang, ya kita tulis dicatatannya. Saya harus jujur apa adanya," tutur Jeje.

Selembar laporan itu ia serahkan kepada divisi konservasi saat pulang jam kerja atau menjelang petang. Isi catatannya antara lain soal perilaku dan kesehatan satwa. Riwayat harian itu juga dipantau dokter hewan.

Sebelum kembali ke rumahnya di kawasan Cibiru, Kota Bandung, Jeje selalu memastikan stok pakan malam untuk Ira dan Salma. Ia tidak ingin dua gajah betina tersebut ngamuk gegara kelaparan dan kehausan.

"Malam hari harus benar-benar makannya cukup. Kalau gajah lepas dari kandang, masa sekuriti yang menangkap," kata Jeje tertawa.

Keahlian Jeje merawat gajah tentunya tidak sembarangan. Ia dibekali pendidikan dan pelatihan menjinakkan binatang tersebut. Jeje pun perlu hati-hati selagi gajah agresif.

Secuil pengalaman tak terlupakan pernah ia alami saat hendak memandikan seekor gajah. Jeje mengaku pernah diboyong ke RS Borromeus Bandung akibat serangan gajah.

"Sapuan belalainya kayak pelan, tapi keras. Tubuh ini terjungkal, sampai saya dibawa ke rumah sakit. Tapi nggak luka apa-apa. Saya nggak jera dengan kejadian itu. Risiko kerja," tutur Jeje menutup perbincangan.
(bbn/mud)